Dear Lala,
Aku tahu ini semacam surat bodoh bagimu, tapi tetap saja aku harus mengirimkanya (menuliskannya) padamu, demi ketenangan batin.
Kemarin itu aku merasa kesal padamu. Di saat aku bingung, sedih, kecewa, dan hampir menangis, kamu dengan asyik-asyiknya memarahi aku, mengirim sms yang menurutku sangat tidak pantas dikirim olehmu kepadaku.
Aku tahu kamu khawatir dengan keadaanku, tapi saat itu bukan saat yang mudah untuk aku. Aku tidak butuh kemarahan, aku tidak butuh emosi. Aku butuh bantuan, dan yang bisa kamu berikan hanyalah kecerewetanmu. Kamu terkadang seperti perempuan yang selalu cerewet. Huhh, aku merasa kalah menjadi perempuan dibanding dirimu.
Aku minta maaf sudah membuat khawatir selarut itu. Aku minta maaf karena keegoisanku (ya, aku tidak ingin disakiti oleh apapun itu), aku menonaktifkan handphoneku agar tak ada seorang pun yang dapat menghubungiku. Kamu, Mamaku, atau siapa pun! Andai bisa, aku ingin menghilang saja. Dan itu membuatmu khawatir. Aku beneran minta maaf.
Dan, Lala, makasih kamu sudah mengkhawatirkan keadaanku. Aku tahu kamu menghubungi teman-temanku untuk mengetahui keadaaanku, tapi hasilnya nihil, karena mereka juga tidak tahu bagaimana keadaanku. Aku juga tahu kamu datang ke rumah untuk mengecek apa aku sudah di rumah atau belum, tapi hasilnya juga nihil. Karena aku tidak mendengar ketukanmu saat itu, aku sudah tertidur.
Sudah dua hari ini kamu tidak menghubungiku. Apa kamu marah? Atau kamu sudah tak peduli lagi padaku seperti sms dari kamu sebelumnya? Well, jika kamu sedang marah. Tidak apa, aku kan menunggu. Jika tiba saatnya amarahmu telah padam, datanglah, aku menunggu kabar darimu.
Salam kasih,
Tata
–
#30HariMenulisSuratCinta
Hari ke-3
aku kok gak dikasitau yah pas hapenya dinonaktifkan
kan bisa ikutan panik juga
cemana mau kasih tahu bang, hapenya matiiiiii ..
)
wkwkwkwk