Natal IA Del 2010 (2)

Karena keterbatasan waktu yang ada (*biasa, sok sibuk) maka saya membuat post yang terpisah dari yang sebelumnya.
:-)
Nah, drama yang dinanti-nanti pun tiba. Awalnya semua yang hadir masih pada asyik dengan urusannya masing-masing. Para pemain drama masih asyik berganti kostum (seadanya) dan hadirin masih asyik dengan obrolannya. Hehehe, lucu deh kalo liat tingkah laku mereka satu per satu. Apalagi para pemain drama yang ramai berganti kostum. Pemainnya hanya berjumlah tujuh, tetapi ruangan itu seperti diisi seratus orang. Rame! Ada berlari kesana-kesini karena gugup tampil di depan banyak orang. Ada yang duduk dengan santai sambil gigit kuku (sepertinya, gugup juga tuh). Ada juga yang masih asyik dengan make-up-nya, terlihat seorang gadis berpenampilan ibu-ibu dirias oleh seorang gadis cantik. But, it’s interesting.

Oke, pemain siap!
Terlihat mereka sedang berpegangan tangan membentuk lingkaran, dan menutup mata di belakang panggung. Hening. Berdoa. Yah, segala sesuatu haruslah dimulai dengan doa.
Tidak lama kemudian, terdengar suara seorang gadis cantik, berperan sebagai pembaca prolog, menandakan drama akan dimulai.

Adegan 1: di warung penjual kue
“Ini Mak Theresa, kue lima puluh biji. Semoga laku daganganmu ya.” Ucap Mak Barokah, sang pemilik warung.
“Beres, Mak Barokah. Serahkan semuanya pada Mak Theresa.” Ucap Mak Theresa bersemangat.
“Jangan lupa, nanti bayar juga kue yang kemarin yah..” kata Mak Barokah lagi.
“Tenang aja, semuanya pasti beres.” Mak Theresa menjawab lagi.

Adegan 2: di terminal
Mak Theresa menjajakan kuenya seharga 3 buah Rp 10.000,-. Lama ia menjajakan kuenya, ia lelah, dan seketika lelahnya sedikit berkurang tatkala seorang gadis cantik nan manis mendatanginya dan sepertinya hendak membeli kue. Sang gadis bertanya-tanya, kue apa yang dijual, rasa apa kue ini, dan terakhir ia bertanya, “Berapa harganya, Bu?” “Tiga sepuluh ribu, Neng,” Mak Theresa menjawab, walau dalam hati ia merutuk, ‘Bukankah aku sudah mengatakan harganya sejak tadi..!’
“Tiga sepuluh ribu?” mata gadis itu sedikit membelalak, “Mahal sekali, Bu! Sorry deh, ga jadi.” Ucapnya lalu berlalu dari hadapan Mak Theresa. Kali ini, Mak Theresa tidak dapat menahan emosinya. “Dasar kurangaja*, uda dari tadi dibilangin harganya, ditanya lagi. Dasar tuli!”
Ia lelah, dagangannya tidak habis. Ia ingin beristirahat, lalu pulang ke rumah.

Adegan 3: rumah Mak Theresa
“Lasma, lasma. Mamak pulang!” ucapnya memanggil putrid bungsunya.
“Iya, Mak. Uda pulang Mamak ya. Duduklah, Mak, pasti capek Mamak kan?” ucap anak gadinya sembari mengusut badan ibundanya, “Banyak yang laku hari ini Mak?” tanyanya lagi.
“Waduh, sedikit kali, Cuma tiga puluh ribu tadi. Itu pun mesti disetor ke Mak Barokah dua puluh ribu.” Ucapnya lelah.
Mendengar hal itu, Lasma sedih, ia tidak ingin membuat mamaknya bertambah pusing memikirkan sekolahnya. Tapi ia harus bayar uang buku, kalau tidak, gurunya akan memarahinya, dan lama-lama ia akan berakhir seperti banyak teman-teman di terminal. Akhirnya, ia memberanikan diri.
”Mak, uang bukuku belum ku bayar,” akhirnya bibirnya berucap.
“Berapa harga bukumu itu?”
“Dua puluh ribu mak.”
“Ah, mahal kali lah uang bukumu itu. Pangolah kali guru kalian itu.” Kata Mak Theresa bernada marah. Lasma tertunduk. Sepertinya ia ingin menangis. Ia menyesal telah mengatakan tentang uang bukunya.
Melihat itu, Mak Theresa tidak tega.
“Ya udah lah, jangan nangis kau. Mamak cari pun nanti uang bukumu.”
Lasma tersenyum. Ia memeluk mamak yang dikasihinya.
“Ya udahlah, mamak mau istirahat dulu,” ujarnya seraya beranjak dari tempatnya menuju tempat tidur.
Dari pintu (ujung panggung) terlihat seorang gadis yang lebih tua dari Lasma masuk. Ada sebatang rokok di jarinya yang halus.
“Ini lagi, dari mana aja kau? Merokok lagi.” Kata Mak Theresa sambil berusaha meraih kepala putri sulungnya. Gadis itu menepis tangan mamaknya.
“Apa Mak?” ucapny tanpa rasa bersalah.
“Rokok ini ku beli bukan dari uang mamak yah, jadi tolong mama jangan ribut.”
“Jadi, kau pikir nasi yang di dalam perutmu itu dari mana, hah??” ucap Mak Theresa keras.
“Mak, sudahlah, Kak, jangan berantem.” Kata Lasma berusaha menengahi.
“Diam, kau Lasma! Ga usah kau ikut-ikutan ribut.” Kata Theresa sambil menepis tangan adiknya.
“Kau memang anak kurang ajar. Gak tahu kau perjuangan mamakmu.”ucap Mak Theresa tak bisa menahan emosinya.
“Ahh, sudahlah. Yang ributan orang di rumah ini. Gak bisa aku tenang tinggal disini.”
“Beh, mulutmu itu! Sadar dulu kau.”
“Ahhhh, pergi aku dari rumah ini. Jangan cari aku.” Kata Theresa dan berlalu dari hadapan mereka.
“Pergi kau, pergi sana. Jangan pernah pulang lagi. Dasar anak tak tahu diri. Si mardan nya kau!” ucap Mak Theresa lalu berlalu, ke kamarnya.
Tinggallah Lasma seorang diri. Ia berbisik, memohon kepada Tuhan untuk memulihkan hubungan mamaknya dengan kakaknya.

Adegan 4: di terminal
Terlihat sebuah bis melintas. “Senen, senen ..” teriak sang supir.
(Hadirin tertawa menyaksikan bis yang sedang lewat. Bis dibuat dari sterofoam yang diwarnai warna biru menyerupai bentuk mobil angkutan umum)
”Kiri.. kiri ..” ucap seorang gadis. Sang supir menghentikan bis.
“Beh, kurang ini. Yang kau pikirnya seribu ongkos?” kata si supir.
“Berapa lagi, Pak?”
“Tambahin lah lagi.”
Dengan tampang agak terpaksa, gadis itu memberikan selembar uang lagi.
“Cukup, Pak?”tanyanya enggan.
“Mmmh..” si supir pun berlalu.

Kembali Mak Theresa menjajakan dagangannya. Kali ini ia menjajakannya kepada gadis yang baru saja turun dari bis. Kelihatannya gadis ini masih polos, bajunya juga masih sederhana.
“Lagi ngapain, Neng?” Tanya Mak Theresa.
“Lagi nunggu jemputan, Bu!”
Mak Theresa berlalu dari gadis itu. Di dalam hatinya muncul pikiran yang jahat.
Tampillah Iblis dan Malaikat di ujung panggung berjauhan dengan si gadis polos.
“Ambil saja uangnya, Mak Theresa. Kau kan butuh duit untuk uang buku si Lasma. Kayaknya dia gadis polos dan agak-agak lugu. Pasti gampang.” rayu Iblis.
“Jangan, Mak Theresa. Jangan lakukan hal keji seperti itu. Itu dosa, Mak Theresa.” Malaikat berusaha menyadarkan Mak Theresa.
“Udah, ambil aja, Mak Theresa. Ingat si Lasma!” ucap Iblis bersemangat.
Mak Theresa mengingat putri bungsunya. Akhirnya, ia beranjak ke arah gadis polos.
Terlihat malaikat bersedih hati menyaksikan kejahatan. Dan Iblis sangat gembira, ternyata manusia itu gampang sekali dirayu.
“Belum datang jemputannya, Neng?”Tanya Mak Theresa lembut.
“Iya, Bu. Lama sekali..” ucap gadis itu polos.
“Orang baru yah disini?”
“Iya, Bu.”
“Datang dari mana ya, Neng?”
“Dari Medan Bu, Sitoluama.”ucapnya lagi.
“Beh, samanya kita. Aku pun dari sananya.”
“Oh iya ya Bu?” terlihat si gadis tersenyum senang
“Boru apa?”
“Sinaga, Bu.”
“Kebetulan sekali. Aku boru Pasaribu, suamiku Sinaga.”
“Oh, berarti, manggil inanguda la yah.”ucap gadis itu lagi.
“Eh, hati-hati disini yah. Jangan percaya ama siapa pun disini.” Kata Mak Theresa sembari tangannya merogoh tas gadis itu dengan sangat perlahan.
“Itu tuh, lelaki di sebelah sana tukang palak. Uda banyak cewek nangis disini.” Yess, dompet milik si gadis sudah berada di tangan Mak Theresa.
“Di sebelah sana itu pencopet. Pokoknya hati-hati aja lah disini. Ingat, jangan percaya ama siapa pun.”
“Iya ya, Bu. Makasih ya, Bu.” Ucap gadis itu dan mempererat pegangan tasnya. “semoga laris jualannya ya, Bu.” Ucap gadis itu.
“Oke oke.” Mak Theresa senang. Ternyata memang gampang dapat duit dengan cara ini.
Malaikat dan Iblis masih berada di tempatnya, di ujung panggung.
“Bagus. Gampang kan, Mak Theresa?” ucap Iblis. Malaikat tidak dapat berkata apa-apa lagi sekarang.
“Iya. Ada uang beli buku si Lasma. Ga perlu lagi cape-cape jualan kue.” Ia meninggalkan dagangannya dan berlalu dari tempat itu.
“Lain kali lakuin lagi yah.” Kata Iblis lagi.

Adegan 5: rumah Mak Theresa
“Lasma.. Lasma.. Mamak pulang Las.“
“Uda pulang Mamak? Koq cepat kali Mak?”
“Ini nah, bayar lah uang buku mu.”
“Dari mana mama dapat uang, Mak?”
“Ntah dari mana lah itu. Yang penting, pergi lah ke sekolah, bayarla uang bukumu itu.”
“Uda telat Mak. Besok lah ya Mak.”
“Ah, baru beberapa menit ini. Cepatlah, pergilah.”
“Oh, iya pergila aku ya Mak.” Lasma pun berlalu.
“Senang kali aku kalau si Lasma bahagia.”ucap Mak Theresa mengelus dadanya.

Adegan 6: tempat berjudi, terminal
Terlihat Mak Theresa, supir bis, dan dua wanita lain sedang bermain kartu.
“Ah, mati kartuku. ” kata wanita dengan pakaian hitam di sebelah kanan Mak Theresa.
“Mana music itu. Bua dulu lagu yang enak,” ucap si supir bis.
“Mana tuak itu. Lama kali datangnya.”ucap wanita berambut lurus di sebelah kiri Mak Theresa.
“Yes, aku menang. Sini-sini semuanya, aku yang menang.” Kata Mak Theresa bersemangat sembari mengumpulkan duit, lalu mengocok kartu lagi.
Terlihat Lasma sedang berjalan. Ia terkejut melihat mamaknya sedang berjudi. Ia kecewa. Tapi, ia tak bisa memergoki mamanya seperti itu. Ia akan berhadapan dengan mamaknya nanti, di rumah.
“Ah, dari tadi kau kau aja yang menang. Sangsi aku lihat Mak Theresa ini.” Ucap wanita berbaju hitam itu.
“Iya, aku juga. Jangan-jangan curang kau, Mak Theresa.” Kata wanita berambut lurus mendukung.
“Ah, apanya kalian? Mentang-mentang kalah.” Mak Theresa berusaha membela diri.
“Ya udah lah, ceng lah kita.” Ajak supir bis.
“Ya udah, ceng la itu.”kata mereka, lalu berlalu dari tempat itu.

Adegan 7: rumah Mak Theresa
Mak Theresa sedang berjalan memasuki rumah.
“Mak, Mak. Mamak main judi yah?” Tanya Lasma tiba-tiba.
“Apanya dibilangnya ini?”
“Mak, Lasma lihat sendiri mamak main judi di terminal. Dari mana uang mamak?”
“..” Mak Theresa tidak bisa menghadapi Lasma.
“Mencuri mamak kan?” tembak Lasma langsung.
Plakk
Mak Theresa menampar pipi Lasma. Tampak ia menyesal, tapi itu sudah terjadi.
“Mak, teman-teman Lasma bilang mamak mencuri di terminal. Lasma ga percaya. Karena Lasma yakin mamak gak akan mungkin melakukan hal keji kayak gitu. Tapi tadi Lasma lihat sendiri mamak main judi.”
“Lagian, kata Mak Barokah, mamak ga pernah lagi jualan kue”
“Iya, memang kenapa rupanya mama mencuri, main judi?”
“Mak, ga boleh gitu. Ga gitu caranya, Mak.”
“Jadi , kayak mana lagi?”
“Tuhan itu baik, Mak.”
“Ah, ga ada Tuhan itu. Buktinya, pas kau butuh uang buku, ada dikasih Tuhan? Waktu kita lapar, ada dikasih Tuhan makanan?”
“Tuhan selalu baik sama kita, Mak.”
“Ah, uda ku bilang ga ada Tuhan itu.”
“Mak, jangan main judi lagi.”
“Beh, kalau ga main judi, g mencuri, mau makan dari mana?”
“Kalau gitu, ga usah lagi Lasma sekolah, Mak.”
“Jangan gitu, kau harus sekolah. Jangan mau hidup miskin kayak mamak.”
“Aku gak mau makan uang haram mamak.”
“Tak usah. Pergi kau cari uang sendiri. Buktikan sama mamak gampang atau engga cari duit itu.”
Lasma berlalu. Mak Theresa juga beranjak dari tempatnya.

Adegan 8: terminal
Terlihat di ujuang panggung sebelah kiri, Mak Theresa sedang bermain kartu dengan temannya.
Sementara di sebelah kanan, terlihat Lasma menjajakan dagangannya kepada seorang wanita berbaju hitam. Lasma terlihat lemah, lusuh dan tidak bersemangat.
“Namboru, kue sepuluh ribu.” Kata Lasma menyodorkan kue yang ada padanya.
“Ndang male ahu, Lasma. Tu na asing ma lean,” jawab wanita itu. Sepertinya mereka sudah saling kenal.
Wanita itu asyik dengan handphone-nya (adegan ini di luar skenario sebenarnya). Lasma kembali menjajakan dagangannya ke arah jalan raya.
Tidak jauh dari situ, supir bis melaju dengan sangat tidak hati-hati.
Treerrttt!
Terdengar suara mobil berdentum. Hal yang tidak diinginkan terjadi. Lasma tertabrak bis.
Wanita berbaju hitam syok, ia tak tahu harus melakukan apa.
“Lasma” jeritnya. Lalu ia berlari ke sebelah kanan.
“Mak Theres.. Mak Theres..” ucapnya terpatah-patah.
“Ah, diam dulu, jangan mengganggu.” Ucap wanita berambut hitam.
“Jangan dulu, lagi kalah aku.” Mak Theresa tidak menggubris kata-kata wanita berbaju hitam.
“Si Lasma, Mak Theres. Si Lasma kecelakaan.”
“Apa??”
“Ia, disana.” Mereka segera berlari, bergegas menuju tempat kecelakaan.
Lasma bernafas dengan perlahan, sangat perlahan, akhirnya ia pergi. Pergi untuk selamanya.
Mak Theresa menangis. Ia berteriak. Ia tak bisa kehilangan putrinya.
Adegan Lasma meninggal ..
Setelah adegan sedih-sedih ini, Mak Theresa, Wanita berbaju hitam, dan wanita berambut hitam mengangkat tubuh Lasma ke arah tepi panggung. Lalu menghilang.

Adegan 9: di jalanan
Mak Theresa sangat kehilangan Lasma. Ia tak sanggup menjalani kehidupan ini tanpa putri yang sangat dikasihinya.
Ia berjalan tanpa tujuan. Di tangannya ada sebuah jaket, peninggalan Lasma.
Ia menangis. Menyesali apa yang telah dilakukannya. Menyesali perbuatannya selama ini.
Dapatkah ia menebus semua itu?
Tuhan, bantu Mak Theresa.
Tujuh pemain drama

Para pemain:

Mak Theresa Herlina Pasaribu
Lasma Relita Marpaung
Theresa, Iblis, Wanita berrambut hitam Atur Pangaribuan
Gadis manis nan mentel Ririn Hutagalung
Gadis polos Nova Sinaga
Supir bis Duma Tambunan
Mak Barokah, Malaikat Novelina Simamora
Pembaca prolog Enti Gultom

latihan drama Natal IA-Del

Seperti biasa, setiap hari sabtu dan minggu, aku dan teman-teman latihan drama; yang akan ditampilkan pada acara Natal IA-Del tahun ini (so pasti tahun ini, masa’ tahun depan?).

Dan, hari minggu (kemaren), kita latihan di HKBP Slipi. Awalnya tidak ada tempat untuk latihan, dikarenakan semua pengurus Gereja sedang sibuk, pada baru pulang gereja, dan ada juga yang mau ke acara pesta (sok tahu!). Nah, dengan senang hati, seorang pengurus, yang ngakunya Sekretaris (hihi), mengijinkan kami untuk menggunakan gereja untuk latihan. (Bagus!) Terima kasih, Bapak Sekretaris. :)

Namun, dengan syarat, harus dijaga dengan baik (pasti!) dan digunakan hingga pukul 4, soalnya mesti dibersihkan dulu untuk kebaktian sore. (tidak masalah.)

Kami mulai latihan pukul 13.30. Berarti masih ada waktu selama 2,5 jam untuk latihan. Itu waktu yang cukup lama.

Oke, latihan dimulai!

Semuanya mulai melakonkan peran masing-masing.

Drama ini berjudul “Mak Theresa”.

Berkisah tentang seorang ibu yang menghidupi kedua anaknya seorang diri di ibukota Jakarta.

Dibuat di kota Jakarta karena Natal IA Del dibuat di kota Jakarta dan kebanyakan alumni bekerja di Jakarta. Ditambah lagi, kebanyakan alumni sudah merasakan bagaimana susahnya hidup di Jakarta.

Ibu ini, yang disebut Mak Theresa, karena nama anak yang paling besar adalah Theresa, begitulah ia dipanggil, Mak Theresa (kebetulan sekali, mereka ini orang Batak). Mak Theresa memiliki dua orang anak perempuan, yang sulung bernama Theresa (pasti dong!) dan yang bungsu bernama Lasma. Kedua anak ini memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Lasma yang lembut dan sabar, sedang kakaknya yang keras dan suka membantah ibunya.

Di dalam drama dilakonkan bagaimana Mak Theresa menjajakan dagangannya (dalam hal ini kue) di terminal dengan susahnya, dan tidak mendapat upah yang cukup. Padahal uang buku untuk Lasma tidak dapat ia berikan. Betapa susahnya hidup di Jakarta. Theresa yang kerjanya keluyuran, hidup tidak jelas, merokok, dan melawan ibunya, membuat Mak Theresa semakin pusing dan tidak dapat berpikir panjang. Mereka bertengkar, dan Theresa pergi dari rumah.

Ketika ada suatu kesempatan, dilihatnya seorang gadis polos dan lugu (sepertinya baru datang dari kampung), Mak Theresa mendekati gadis itu, bertanya-tanya, mengalihkan perhatiannya dan mencuri uang darinya. Akhirnya ia mendapat uang untuk membeli buku anak bungsunya, Lasma. Ia melihat usahanya mendapat uang dari mencuri itu bagus, sehingga ia melanjutkan pekerjaannya mencuri, dan ikut berjudi dengan teman-temannya di terminal. Ia juga tidak berjualan kue lagi karena asyik berjudi dan mencuri.

Suatu ketika, anaknya Lasma melihatnya berjudi. Ia terkejut, tidak menyangka ibunya akan melakukan kejahatan di mata Tuhan. Lasma marah, dan ia menyuruh ibunya untuk tidak berjudi dan mencuri lagi. Ibunya jelas tidak mau. Alhasil, mereka bertengkar hebat. Karena Lasma tidak ingin menggunakan uang haram ibunya, ia berusaha menjajakan dagangan ibunya dulu, yaitu berjualan kue di terminal yang sama.

Lasma, bukanlah gadis yang kuat, ia sangat lemah. Kekuatan fisiknya menurun drastis, tetapi ia tetap menjajakan dagangannya. Hingga akhirnya, ketika ia sedang tidak fokus, dan sebuah bis melaju ke arahnya (sepertinya sang supir juga sedang tidak fokus), dan hal yang tidak diduga-duga terjadi. Lasma terjatuh, dan supir bisnya berlalu (adegan supir berlalu seharusnya tidak dibahas disini). Lasma tidak tertolong lagi.

Mak Theresa begitu menderita kehilangan Lasma. Ia anak yang baik, dan tidak seharusnya ini terjadi padanya. Mak Theresa sangat menyesal, membiarkan Lasma menjajakan dagangannya. Mak Theresa sangat menyesal, kenapa ia tidak menuruti keinginan anak kesayangannya itu. Kini, ia tak berdaya. Ia menyesali semua yang dilakukannya. Ia ingin bertobat.

Ada seorang gadis baik dan sepertinya masih polos (masih ingat dengan seorang gadis dari kampung, yang uangnya dicuri oleh Mak Theresa?), datang menghampiri Mak Theresa yang tertidur di jalanan. Sepertinya ia mengenal wanita tua itu, dan bercakap-cakap dengannya. Mak Theresa juga masih mengingat gadis ini. Ia meminta maaf untuk yang telah dilakukannya di masa silam. Dan, sepertinya (lagi), gadis ini sedang mencari seorang pelayan untuk mencuci piring di restoran dia bekerja. Ia mengajukan Mak Theresa untuk bekerja disana. Tentu saja, Mak Theresa mau, apalagi disediakan tempat tinggal. Mak Theresia sangat bersyukur kepada Tuhan untuk karunianya yang melimpah, masih ada orang baik yang mau menerima dia seikhlas hati.

Hari-hari Mak Theresia dipenuhi syukur dan sukacita. Ia melayani di gereja sebagai pengajar sekolah minggu. Ia menjadi sosok ibu yang lemah lembut dan mencintai anak-anak. Di dalam kelimpahannya, anak sulungnya, Theresa yang telah lama hilang dan tidak ada kabar beritanya, telah menyesali jalan hidupnya, datang kepada ibunya, dan meminta maaf. Mak Theresia, yang telah lama merindukan sosok anaknya, dengan senang hati memaafkannya, dan menerimanya kembali masuk ke kehidupannya lagi.

Akhirnya, mereka bersama-sama ke gereja merayakan Natal bersama anak-anak sekolah minggu. Sukacita Natal bersemi di hati mereka masing-masing.

Seperti itulah, adegan cerita yang dilakonkan. Menarik bukan?

Tujuh gadis dari sevenjen (Alumni Del Angkatan 07) berusaha untuk melakonkan yang terbaik, tapi tetap saja timbul hal-hal yang lucu yang membuat semua tertawa. Sang pembaca prolog (dari sevenjen juga) sedikit linglung dengan prolog yang mesti diperbaharui agar sesuai dengan yang dilakonkan.

Selesai latihan satu sesi, evaluasi, diperbaiki sedikit demi sedikit, untuk drama yang lebih baik ke depannya.

Kemudian, latihan untuk sesi kedua. Lebih baik dari yang sesi pertama (sepertinya). Walau masih ada yang kurang. But, tidak apa-apa, masih ada kesempatan latihan sekali lagi. Semoga semuanya lancar-lancar aja.

Hidup Drama IA-Del 2010!!

Bagi yang berminat, silakan datang ke acara Perayaan Natal IA-Del di HKBP SLipi pada tanggal 18 Desember 2010.
Ditunggu kehadirannya! *

*Nb: Saya tidak bertanggung jawab jika anda tidak mendapat makanan dari Panitia. Hihihihi!