latihan drama Natal IA-Del

Seperti biasa, setiap hari sabtu dan minggu, aku dan teman-teman latihan drama; yang akan ditampilkan pada acara Natal IA-Del tahun ini (so pasti tahun ini, masa’ tahun depan?).

Dan, hari minggu (kemaren), kita latihan di HKBP Slipi. Awalnya tidak ada tempat untuk latihan, dikarenakan semua pengurus Gereja sedang sibuk, pada baru pulang gereja, dan ada juga yang mau ke acara pesta (sok tahu!). Nah, dengan senang hati, seorang pengurus, yang ngakunya Sekretaris (hihi), mengijinkan kami untuk menggunakan gereja untuk latihan. (Bagus!) Terima kasih, Bapak Sekretaris. :)

Namun, dengan syarat, harus dijaga dengan baik (pasti!) dan digunakan hingga pukul 4, soalnya mesti dibersihkan dulu untuk kebaktian sore. (tidak masalah.)

Kami mulai latihan pukul 13.30. Berarti masih ada waktu selama 2,5 jam untuk latihan. Itu waktu yang cukup lama.

Oke, latihan dimulai!

Semuanya mulai melakonkan peran masing-masing.

Drama ini berjudul “Mak Theresa”.

Berkisah tentang seorang ibu yang menghidupi kedua anaknya seorang diri di ibukota Jakarta.

Dibuat di kota Jakarta karena Natal IA Del dibuat di kota Jakarta dan kebanyakan alumni bekerja di Jakarta. Ditambah lagi, kebanyakan alumni sudah merasakan bagaimana susahnya hidup di Jakarta.

Ibu ini, yang disebut Mak Theresa, karena nama anak yang paling besar adalah Theresa, begitulah ia dipanggil, Mak Theresa (kebetulan sekali, mereka ini orang Batak). Mak Theresa memiliki dua orang anak perempuan, yang sulung bernama Theresa (pasti dong!) dan yang bungsu bernama Lasma. Kedua anak ini memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Lasma yang lembut dan sabar, sedang kakaknya yang keras dan suka membantah ibunya.

Di dalam drama dilakonkan bagaimana Mak Theresa menjajakan dagangannya (dalam hal ini kue) di terminal dengan susahnya, dan tidak mendapat upah yang cukup. Padahal uang buku untuk Lasma tidak dapat ia berikan. Betapa susahnya hidup di Jakarta. Theresa yang kerjanya keluyuran, hidup tidak jelas, merokok, dan melawan ibunya, membuat Mak Theresa semakin pusing dan tidak dapat berpikir panjang. Mereka bertengkar, dan Theresa pergi dari rumah.

Ketika ada suatu kesempatan, dilihatnya seorang gadis polos dan lugu (sepertinya baru datang dari kampung), Mak Theresa mendekati gadis itu, bertanya-tanya, mengalihkan perhatiannya dan mencuri uang darinya. Akhirnya ia mendapat uang untuk membeli buku anak bungsunya, Lasma. Ia melihat usahanya mendapat uang dari mencuri itu bagus, sehingga ia melanjutkan pekerjaannya mencuri, dan ikut berjudi dengan teman-temannya di terminal. Ia juga tidak berjualan kue lagi karena asyik berjudi dan mencuri.

Suatu ketika, anaknya Lasma melihatnya berjudi. Ia terkejut, tidak menyangka ibunya akan melakukan kejahatan di mata Tuhan. Lasma marah, dan ia menyuruh ibunya untuk tidak berjudi dan mencuri lagi. Ibunya jelas tidak mau. Alhasil, mereka bertengkar hebat. Karena Lasma tidak ingin menggunakan uang haram ibunya, ia berusaha menjajakan dagangan ibunya dulu, yaitu berjualan kue di terminal yang sama.

Lasma, bukanlah gadis yang kuat, ia sangat lemah. Kekuatan fisiknya menurun drastis, tetapi ia tetap menjajakan dagangannya. Hingga akhirnya, ketika ia sedang tidak fokus, dan sebuah bis melaju ke arahnya (sepertinya sang supir juga sedang tidak fokus), dan hal yang tidak diduga-duga terjadi. Lasma terjatuh, dan supir bisnya berlalu (adegan supir berlalu seharusnya tidak dibahas disini). Lasma tidak tertolong lagi.

Mak Theresa begitu menderita kehilangan Lasma. Ia anak yang baik, dan tidak seharusnya ini terjadi padanya. Mak Theresa sangat menyesal, membiarkan Lasma menjajakan dagangannya. Mak Theresa sangat menyesal, kenapa ia tidak menuruti keinginan anak kesayangannya itu. Kini, ia tak berdaya. Ia menyesali semua yang dilakukannya. Ia ingin bertobat.

Ada seorang gadis baik dan sepertinya masih polos (masih ingat dengan seorang gadis dari kampung, yang uangnya dicuri oleh Mak Theresa?), datang menghampiri Mak Theresa yang tertidur di jalanan. Sepertinya ia mengenal wanita tua itu, dan bercakap-cakap dengannya. Mak Theresa juga masih mengingat gadis ini. Ia meminta maaf untuk yang telah dilakukannya di masa silam. Dan, sepertinya (lagi), gadis ini sedang mencari seorang pelayan untuk mencuci piring di restoran dia bekerja. Ia mengajukan Mak Theresa untuk bekerja disana. Tentu saja, Mak Theresa mau, apalagi disediakan tempat tinggal. Mak Theresia sangat bersyukur kepada Tuhan untuk karunianya yang melimpah, masih ada orang baik yang mau menerima dia seikhlas hati.

Hari-hari Mak Theresia dipenuhi syukur dan sukacita. Ia melayani di gereja sebagai pengajar sekolah minggu. Ia menjadi sosok ibu yang lemah lembut dan mencintai anak-anak. Di dalam kelimpahannya, anak sulungnya, Theresa yang telah lama hilang dan tidak ada kabar beritanya, telah menyesali jalan hidupnya, datang kepada ibunya, dan meminta maaf. Mak Theresia, yang telah lama merindukan sosok anaknya, dengan senang hati memaafkannya, dan menerimanya kembali masuk ke kehidupannya lagi.

Akhirnya, mereka bersama-sama ke gereja merayakan Natal bersama anak-anak sekolah minggu. Sukacita Natal bersemi di hati mereka masing-masing.

Seperti itulah, adegan cerita yang dilakonkan. Menarik bukan?

Tujuh gadis dari sevenjen (Alumni Del Angkatan 07) berusaha untuk melakonkan yang terbaik, tapi tetap saja timbul hal-hal yang lucu yang membuat semua tertawa. Sang pembaca prolog (dari sevenjen juga) sedikit linglung dengan prolog yang mesti diperbaharui agar sesuai dengan yang dilakonkan.

Selesai latihan satu sesi, evaluasi, diperbaiki sedikit demi sedikit, untuk drama yang lebih baik ke depannya.

Kemudian, latihan untuk sesi kedua. Lebih baik dari yang sesi pertama (sepertinya). Walau masih ada yang kurang. But, tidak apa-apa, masih ada kesempatan latihan sekali lagi. Semoga semuanya lancar-lancar aja.

Hidup Drama IA-Del 2010!!

Bagi yang berminat, silakan datang ke acara Perayaan Natal IA-Del di HKBP SLipi pada tanggal 18 Desember 2010.
Ditunggu kehadirannya! *

*Nb: Saya tidak bertanggung jawab jika anda tidak mendapat makanan dari Panitia. Hihihihi!