rumah itu

Rumah itu terlihat sepi, gelap. Suasana menyeramkan. Setiap orang yang lewat tidak berani memandang ke arah rumah itu. Seseorang mendekat dan membuka pintu dan masuk, lalu terlihat ada penerangan di rumah itu lalu pintu pun tertutup.
Tidak ada sesuatu pun yang terjadi. Tidak ada suara yang terdengar. Tidak ada lagi yang kelihatan dari rumah itu.
Lalu, terlihat dua wanita mendekati rumah itu, dengan agak segan, mereka mengetuk pintu rumah. Muncul seorang wanita di balik pintu dan mempersilakan mereka masuk, pintu dibiarkan terbuka. Ternyata ada empat orang disana. Bukan tiga. Ternyata sebelum lampunya dihidupkan, sudah ada yang lebih dulu masuk ke rumah itu.
Mereka duduk berkeliling, berhadap-hadapan. Diam. Tak ada suara yang terdengar.

"Aku akan pindah dari rumah ini.." seseorang yang membuka pintu tadi berkata akhirnya.
"Mengapa?" tanya wanita yang paling tua. Wajahnya penuh tanya.
"Aku juga punya pikiran yang sama.." ucap wanita ketiga, yang kelihatannya paling muda di antara mereka berempat.

"Dan aku pun berpikiran seperti itu sebelumnya, tapi aku tidak mengira itu pilihan yang tepat.. Ingat kenapa kita tinggal satu rumah? Lalu, mengapa sekarang kita berpisah?" kata wanita keempat yang ada disitu. Pandangannya menyapu setiap sudut rumah dan akhirnya kepada ketiga teman yang ada bersama-sama dengan dirinya di tempat itu.
"Lari dari masalah bukanlah solusi. Dan, ingatlah, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.." sambungnya lagi.

Teman-temannya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Selama beberapa menit masih seperti itu. Wanita yang paling muda bertukar pandang dengan wanita keempat tadi, tapi tak ada kata terucap.

"Aku minta maaf.. Ini semua salahku.." ucap wanita yang paling tua itu. Kepalanya tertunduk.
"Tidak, ini salahku.." kata wanita kedua, yang membuka pintu tadi.
"Aku mengira kalian tidak peduli padaku, .." kata wanita paling tua itu.
"Ya enggaklah ka, bagaimana kami bisa begitu terhadapmu? Kami tidaklah setega itu ka .. Hanya saja kami tidak tahu apa yang terjadi, dan tidak tahu harus berbuat apa.." kata wanita kedua, ia tertunduk.

"Sudahlah, kak, tidak ada yang salah.." kata wanita yang paling muda itu, kepalanya juga ikut menunduk, seperti menyesal telah melakukan sesuatu yang salah.
"Sudahlah, tidak ada yang salah. Tidak perlu mencari tahu siapa yang salah. Kita sudah berdamai, itu yang paling penting, bukankah seperti itu?" tanya wanita keempat tanpa ada jawaban yang terdengar.

"Kita berdamai kan?" tanyanya lagi, kali ini ia benar-benar butuh jawaban. Ia sapukan lagi pandangannya pada mereka semua.
"Baiklah, kakak minta maaf ya.." kata wanita paling tua, kali ini wajahnya lebih sendu.
Lalu, mereka terlihat saling pandang, senyum menghiasi wajah mereka. Mereka tampak lelah, berjuang melawan batin dan mereka menang, wajah mereka ceria.
Akhirnya aku melihat rumah itu tidak seseram sebelumnya, bahkan memang tidak seram, suasananya lebih cerah dan terang.

waktu itu ..

Aku diburu waktu. Berjalan lebih cepat.. mengejar waktu, secepat angin.

Waktu masuk ke kantor sudah lewat lima menit yang lalu. Tapi aku tidak akan pergi ke kantor pagi ini, ada sedikit urusan yang mesti ku tangani sebelum ke kantor, tapi tetap saja aku harus bergerak cepat.

Aku harus menyeberang. Jika ingin lebih cepat, harusnya aku akan menyeberang langsung, mengarahkan tangan ke arah mobil-mobil yang sedang lewat meminta mereka memperlambat lajunya
agar aku bisa tiba di seberang. Tapi tidak, aku lebih memilih menyeberang lewat jembatan penyemberangan yang disediakan oleh pemerintah kota. Lagian, pilihan ini lebih aman.

Aku menaiki anak tangga satu per satu. Lalu, aku berjalan dengan tergesa-gesa, langkahku cepat. Suasana jembatan sepi. Tidak ada seorang pun disini. Mungkin seperti inilah kondisinya jika semua orang asyik berada di kantor.

Ketika aku berada di pertengahan, aku merasakan suasana berbeda di jembatan ini, sepertinya aku tidak sendiri. Benar saja, di belakang sudah berdiri dua pemuda tanggung, yang dilihat dari pakaiannya, bukanlah pegawai kantor, pekerja atau semacamnya. Dan, mereka tidak sedang diburu waktu. Jarak mereka semakin dekat denganku.

Lalu, aku berbelok, dan menuruni tangga. Aku curiga terhadap kedua pemuda ini. Sesampainya aku di bawah, dan mereka juga, aku melihat ke arah mereka. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa ke arah yang berlawanan.

Aku tersentak, segera kuperiksa tas punggungku. Ada sobekan kecil tapi cukup besar untuk jalan keluar handphone. Handphone? Kuperiksa handphone, tidak berada di tempat. Dompet? Syukurlah, dompetku masih aman di tempatnya.

Ku cari-cari mereka, yah mereka sedang menyetop bis.
Tidak!!
‘Tuhan, ku mohon selamatkan aku’ doa ku dalam batin.
Syukurlah, bis nya tidak berhenti. Lalu aku berlari semakin kencang mengejar mereka. Ketika sampai di tempat mereka, masih dengan ngos-ngosan, aku menengadahkan tanganku.
"Minta handphone ku", ucapku garang agar mereka sedikit takut padaku. Tapi, aku tidak melihat ketakutan di mata mereka. Aku takut mereka akan melukai ku, di tempat sepi seperti ini.
Mereka berdua, pasti akan mudah mengalahkan aku yang lemah ini.

‘Tuhan, ku mohon selamatkan aku,’ doaku lagi.
Akhirnya, ia meletakkan handphone ku di tanganku, lalu mereka segera berlalu. Aku segera berjalan dengan langkah cepat berlawanan arah dengan mereka.
Ketika aku merasa sudah aman, aku duduk lemas. Jantungku masih berdetak cepat, tanganku gemetaran.

Kejadian ini sungguh di luar dugaan, aku tak kuat. Akhirnya, aku menangis. Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk menenangkan diri.
Aku memang menangis, tapi hanya sebentar. Lalu, aku sudah kuat lagi. Aku tidak kehilangan apa-apa.
Terima kasih, Tuhan.
Aku berjanji tidak akan pergi kemana-mana sendirian lagi jika tempat itu tidak aman.

Shopaholic

Wanita itu masih asyik memilih barang-barang yang disukainya. Sepertinya ia pegawai kantoran, dilihat dari pakaiannya – kemeja lengan panjang dipadu dengan celana bahan dan sepatu hak tinggi.

"Gunakan keranjang ini aja, Mbak," seorang petugas pria di tempat itu menyodorkan sebuah keranjang berwarna merah.
"Oh, terima kasih," ujar wanita itu setengah terkejut.
Sebenarnya, tidak ada keinginan untuk menggunakan keranjang, karena ia berpikir ia tidak akan berbelanja banyak dan tidak memerlukan keranjang untuk itu. Tapi, baik sekali pria itu mau memberikannya keranjang. Ia menghargai kebaikannya.

Lalu, ia melanjutkan memilih barang-barang, menimang, dan menimbang-nimbang. Kali ini ia beranjak ke bagian rak penuh coffee, sepertinya ia seorang penikmat kopi. Ia mengambil sekotak Vanilla Latte, lalu sebungkus coffee sachet. Lalu ia melangkah lagi, menimbang-nimbang, dan bergerak ke arah antrian di depan kasir.

Ada seorang bapak yang membeli sekotak susu, sepertinya untuk anaknya, atau untuknya, entahlah. Si Bapak membayar barang belanjaannya dan segera berlalu. Giliran si wanita. Keranjangnya ia letakkan di meja kasir, lalu kasir sibuk dengan barang-barang belanjaannya.

"Bisa bayar pake M Card?" tanyanya.
"Gak bisa, Mbak. Tapi B Card bisa."
‘Bagaimana sih supermarket seperti ini tidak menerima pembayaran pake debet Card M? Parah ah.’ pikirnya. Padahal saldo di M Card lebih besar dibanding dengan B Card.
"Waduh.." lalu ia mengira-ngira berapa sisa di B card miliknya. Dengan ragu, ia menyerahkan B Card yang ada padanya.
"Declined, Mbak."
"Waduh, gimana yah?"
"Sebentar saya coba lagi, Mbak."
Tidak lama kemudian..
"Declined lagi, Mbak. Kira-kira berapa saldonya ya Mbak?"
"Wah, saya kurang tahu Mas."
"Jadi, gimana Mbak?"
"Boleh gak, itemnya di-delete saja?"
"Boleh, Item yang mana aja Mbak?"
"Yang ini deh.." katanya seraya mengeluarkan bungkusan merah dari plastik.
"Sebentar dicoba lagi ya Mbak" dan "Masih kurang Mbak. Jadi, gimana Mbak?"
"Ywda, saya buat saja dari debet card ini sebisanya, lalu sisanya Mbak bayar yah"
"Jumlah yang Mbak tambah adalah sebesar tiga belas ribu lima ratus rupiah.." kata sang kasir.
Si wanita kelihatan bingung. Dilirik dompetnya yang kosong, sama sekali tidak ada apa pun.
"Waduh, Mas, duit saya tidak ada. Gimana dong mas?" tanyanya cemas.
Lagi-lagi dia melirik dompetnya, lalu mencari-cari di setiap selipan, di setiap celah di dompetnya. Dengan agak terkejut, terselip uang selembar sepuluh ribu yang dilipat secara rapi membentuk kemeja yang dilipat rapi. Lalu, ada uang lima ribuan yang juga bergaya sama dengan lembar sepuluh ribu. Ia, sepertinya tak tega memberikan dua lembar duit itu. Ia telah menyimpan lembaran itu sekian lama, mungkin sudah menginjak usia tiga tahun, atau lima tahun, ia tak tahu pasti. Lembaran duit itu punya kisah sendiri di hatinya.

Akhirnya, dengan ragu, ia menyerahkan dua lembar itu tanpa membuka lipatannya.
‘Biar saja mereka yg membuka lipatannya’ batinnya berkata.
"Ini kembaliannya, Mbak. Terima kasih." ujar si kasir ramah, walau si wanita telah membuat antrian bertambah di belakang.
‘Bagaimana bisa, dalam waktu tiga minggu, gajiku yang tidak seberapa itu habis?’
Si wanita merenung di perjalanannya menuju rumah kontrakannya. Ia tinggal bersama kedua temannya. Dibanding teman-temannya, salary yang dia dapat lebih besar walau sedikit, tapi teman-temannya tidak pernah kehabisan duit seperti ini.

Kali ini, ia memantapkan hatinya untuk tidak menghambur-hamburkan duitnya, walau di dalam hatinya, ia tetap meragu.

khayalku

Waduh, pengen nulis sesuatu.
Pengen nulis sesuatu lagi tentang jeyscar.
Arrrggghhh .. pokoknya pengen nulis.

..
..
..
..
Tapi, kog g bisa yah?
Otakku kenapa g bisa diajak kompromi??
Kemana perginya imajinasiku?
Kemana perginya khayalanku?

Tidak, ku mohon jangan pergi.
ku mohon jangan tinggalkan aku disini, sendiri.

Aku akan mati
dan tak punya apa-apa lagi.
Kumohon kembalilah..