Mataku masih berat. Aku melirik ke hape ku, 07.09.
Sudah jam 7 pagi, tapi kenapa mataku tidak bisa membuka dengan ikhlas? Kenapa badanku rasanya malas untuk bangun?
Ah, biarkan sajalah, toh hal ini tidak sering terjadi.
Aku mencoba untuk tidur dan bermalas-malasan, berharap Lam akan bangun lebih dulu, dan langsung mandi. Setelah dia mandi, aku akan bangun, pikirku.
Tak beberapa kemudian, aku melihat jam lagi, 07.30. Waduh, sudah setengah delapan, kenapa Lam belum bangun juga? Apakah dia juga berpikir bahwa aku yang akan duluan bangun?
Waduh, bahaya nih. Tapi, lagi-lagi badanku tidak bisa diajak kompromi. Dan masih terbuai dengan tempat tidur yang tidak terlalu empuk.
Akhirnya, aku melihat lagi, sudah jam 07.58. Waduh, ini tidak bisa dibiarkan. Lam juga belum bangun. Akhirnya kupaksakan diriku, kuangkat badanku, dan kuteguk segelas air untuk menyadarkanku. Dan aku bergerak untuk mandi.
Yang membuat ku bertahan lama di kamar mandi (biasanya) adalah jika aku sedang keramas. Dan pagi ini jadwal untuk keramas. Aku tahu aku akan berada lama di dalam (itu artinya akan telat masuk kantor), tapi jadwal keramas tidak bisa ditunda. Jadilah, dengan sedikit gerakan yang dipercepat, aku keluar dari kamar mandi, dan rambut yang basah (ya iyalah, masa keramas tapi rambutnya kering?!).
Dan, dengan terburu-buru Lam masuk ke kamar mandi. Aku tahu yang dilakukannya, Ia mandi.
Pukul 08.39 aku berjalan lebih cepat dari yang biasanya, meninggalkan Lam yang tidak bisa mengimbangiku. Aku tidak menunggunya.
Ku lihat mobil parkir di tempat biasa bos parkir. Aku takut. Lalu, aku melihat Mas Agus, OB, dan bertanya padanya. Tidak, Bos belum datang, ujarnya. Aku sedikit tenang.
“Bos menyuruh Lam menelepon,” ucapnya lagi setelah melihat Lam di belakangku.
Waduh, sama aja, bos tetap tahu aku datang telat. Sedihnya.
Kenapa telat?
Telat bangun, Bos!
Lain kali jangan diulangi lagi ya.

Jakarta, 02 Desember 2010